Hati yang ikhlas adalah hati yang hanya berisi satu keinginan, yaitu keinginan untuk mendapatkan rahmat, dan ridha Allah (سبحانه وتعالى) semata. Hati yang hanya tertuju kepada Allah (سبحانه وتعالى). Hati yang hanya ditujukan untuk mendapatkan pujian dari Allah (سبحانه وتعالى) dengan pahala. Dari sinilah lalu kita berkata “Aku ikhlas melakukan sesuatu itu hanya karena Allah (سبحانه وتعالى)., karena hanya ingin mendapat rahmat dan ridha-Nya. Lakukanlah setiap amal Anda hanya dengan satu harapan, ridha dan rahmat Allah (سبحانه وتعالى).
Hati yang tidak ikhlas adalah hati yang berisi tidak hanya satu keinginan, tetapi juga memiliki keinginan dan harapan yang lain. Yang diharapkan dari hati yang tidak ikhlas, tidak hanya dari Allah (سبحانه وتعالى)., tetapi juga dari yang lain, dari manusia, atau dari tujuan yang lain. Hati yang tidak ikhlas itu adalah hati yang memiliki lebih dari satu tujuan atau lebih dari satu keinginan atau harapan.
Ketika Anda melaksanakan puasa, maka laksanakanlah puasa itu hanya dengan mengharap ridha dan rahmat Allah (سبحانه وتعالى). Laksanakan semua ibadah yang diperintahkan oleh Allah (سبحانه وتعالى) dan Rasul-Nya dengan ikhlas hanya untuk mendapatkan rahmat dan ridha-Nya. Itulah sebabnya, maka setiap amal yang kita lakukan harus diniatkan, hanya karena Allah (سبحانه وتعالى), bukan karena yang lain. Inilah yang disebut dengan “Ikhlas kepada Allah (سبحانه وتعالى).”
Jika Anda melaksanakan suatu perintah agama, tidak hanya mengharapkan ridha dan rahmat Allah (سبحانه وتعالى), tetapi juga di dalam hati Anda terbetik keinginan atau harapan untuk mendapat pujian dari orang lain, misalnya dari calon isteri/suami Anda, calon mertua Anda, dari bos Anda, dari atasan Anda, atau dari siapa pun, maka pada saat itulah hati Anda menjadi hati yang tidak ikhlas.
Orang yang hatinya ikhlas dalam melakukan sesuatu adalah orang yang selalu melakukan sesuatu tanpa ada pamrih yang lain. Dia akan bekerja dengan penuh antusias, penuh semangat, dan penuh motivasi. Orang yang seperti, kalau bekerja, tidak perlu diawasi, tidak perlu dikontrol. Karena keikhlasannya kepada Allah (سبحانه وتعالى), dia meyakini bahwa Allah (سبحانه وتعالى) selalu mengawasi dan mengontrolnya.
Orang yang ikhlas adalah orang yang hatinya selalu lapang, hatinya luas, hatinya tidak sempit, hatinya tidak keras. Orang seperti ini, jika memberi pelayanan, dia akan memberi pelayanan yang terbaik kepada siapa pun dengan tulus, dengan penuh antusias. Dia juga selalu memberi pelayanan dengan penuh ceria, gembira, dan menyenangkan. Orang seperti ini pula selalu menghasilkan pekerjaan yang sangat baik dengan hasil yang optimal.
Oleh sebab itu, ikhlaskan hatimu dalam melaksanakan segala sesuatu, apa saja yang Anda lakukan, pekerjaan apa saja yang ditugaskan kepada Anda, hanya untuk menggapai ridha dan rahmat Allah (سبحانه وتعالى). Amalmu itu akan mendapatkan pahala dari Allah (سبحانه وتعالى), di samping mendapat gaji dari pekerjaanmu itu. Dengan ikhlas, hatimu jadi selalu tenang, gembira, dan ceria. Semoga Allah (سبحانه وتعالى) memberi kekuatan kepada kita untuk kita selalu melaksanakan amal dan tugas kita dengan hati yang ikhlas. Aamiin. Wallaahu a’lam bi al-shawab.
[Bagian-1] Apa Hakikat Keikhlasan?
Jumat, 01 Juli 2016
Apa Hakikat Keikhlasan? [bagian-1]
Oleh: Ahmad Thib Raya Al-Yaminy
Saya angkat tema ini atas perimintaan seorang murid saya. Dia meminta saya agar dapat menjelaskan tentang makna keikhlasan itu. Mari kita simak uraian berikut.
Kita sering mendengar atau menggunakan kata “keikhlasan” dalam pergaulan kita sehari-hari, terutama dalam kaitannya dengan melakukan sebuah pekerjaan. Misalnya, “Lakukanlah tugasmu, amalmu dengan penuh keikhlasan.” “Lakukanlah semua pekerjaanmu dengan ikhlas.”
Kata “keikhlasan” adalah salah satu kata Arab yang sudah diserap oleh bahasa Indonesia, dan kini menjadi salah satu kata baku di dalam bahasa Indonesia. Asal kata “keikhlasan” adalah “ikhlas” (إخلاص) yang diawali dengan awal “ke-“ dan akhiran “-an.” Untuk menelusuri makna asal dari kata ini, mari kita lihat terlebih dahulu bentuk kata itu di dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab.
Kata “ikhlas” (إخلاص) ini berasal dari kata “khalasha” (خلص), yaitu bentuk kata kerta “intransitif,” yang berarti “murni, tidak bercampur dengan sesuatu, bersih, jernih.” Seperti dalam ungkapan “Air itu murni, bersih, dan jernih” (خلص الماء). “Air murni, bersih, dan jernih, tidak bercampur dengan apa pun” disebut الماء الخالص (al-maa’u al-khaalish-u). Kata kerja ini lalu ditambahkan di awalnya “أ” (hamzah), sehingga menjadi “akhlasha” (أخلص), yang berarti “memurnikan, membersihkan, dan menjernihkan sesuatu.”
Kalau ada orang yang berakata kepada Anda “Ikhlaskan hatimu dalam beramal dan bekerja,” maka maksudnya adalah “Murnikan, bersihkan, dan jernihkan hati dalam beramal dan bekerja.” Orang yang ikhlas disebut “mukhlis,” yaitu orang yang mampu memurnikan, menjernihkan, dan membersihkan hatinya dari sesuatu yang dapat menghilangkan kemurniannya.
Keikhlasanmu berada di dalam hatimu. Tidak ada yang tahu, apakah Anda ikhlas atau tidak dalam melakukan sesuatu. Yang tahu tentang keikhlasan hatimu adalah Anda sendiri dan Allah (سبحانه وتعالى). Orang lain tidak dapat mengetahui keikhlasan hati seseorang karena keikhlasan itu berada di dalam hati. Ikhlas itu bercokol di dalam hati. Kalau Anda mengatakan bahwa dia sangat tulus melakukan pekerjaan itu, itu hanya dugaan belaka.
Hati yang murni itu bukan berarti hati yang kosong dari sesuatu. Hati yang kosong dari sesuatu bukanlah hati yang murni, tetapi hati yang kosong, hati yang tidak berisi sesuatu, yang di dalam bahasa Arab disebut القلب الخالي (al-qalb-u al-khaaliy). Hati yang murni atau ikhlas itu adalah hati yang hanya berisi satu sesuatu, tidak ada campurannya dengan sesuatu yang lain.
Sebagai contoh. Ambillah sebuah gelas dari kaca yang bening, lalu letakkan di atas meja. Gelas itu jangan diisi dengan apapun. Anda berkata “Gelas itu bening, kosong dari sesuatu, tidak berisi apa-apa.” Demikianlah hati yang kosong, dan bening itu. Lalu kalau gelas yang ada di atas meja itu Anda isi dengan air putih, bersih, murni, dan jernih, tidak bercampur dengan apa pun, maka Anda akan berkata bahwa “Gelas itu ikhlas.” Artinya, gelas itu tidak berisi sesuatu yang lain kecuali air putih itu.” Demikianlah hati yang ikhlas itu, adalah hati yang hanya berisi satu sesuatu, tidak dicampur sedikit pun dengan benda yang lain. Kalau Anda memasukkan air teh, air gula puith, atau air gula merah, maka gelas itu tidak ikhlas lagi, karena isinya lebih dari satu benda. Demikianlah hati yang tidak ikhlas itu, adalah hati yang tadinya berisi satu benda, lalu bercampur dengan sesuatu benda yang lain. Atau hati yang isinya sudah bercampur dengan sesuatu yang lain.
[Bagian-2] Apa Hakikat Keikhlasan?
Saya angkat tema ini atas perimintaan seorang murid saya. Dia meminta saya agar dapat menjelaskan tentang makna keikhlasan itu. Mari kita simak uraian berikut.
Kita sering mendengar atau menggunakan kata “keikhlasan” dalam pergaulan kita sehari-hari, terutama dalam kaitannya dengan melakukan sebuah pekerjaan. Misalnya, “Lakukanlah tugasmu, amalmu dengan penuh keikhlasan.” “Lakukanlah semua pekerjaanmu dengan ikhlas.”
Kata “keikhlasan” adalah salah satu kata Arab yang sudah diserap oleh bahasa Indonesia, dan kini menjadi salah satu kata baku di dalam bahasa Indonesia. Asal kata “keikhlasan” adalah “ikhlas” (إخلاص) yang diawali dengan awal “ke-“ dan akhiran “-an.” Untuk menelusuri makna asal dari kata ini, mari kita lihat terlebih dahulu bentuk kata itu di dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab.
Kata “ikhlas” (إخلاص) ini berasal dari kata “khalasha” (خلص), yaitu bentuk kata kerta “intransitif,” yang berarti “murni, tidak bercampur dengan sesuatu, bersih, jernih.” Seperti dalam ungkapan “Air itu murni, bersih, dan jernih” (خلص الماء). “Air murni, bersih, dan jernih, tidak bercampur dengan apa pun” disebut الماء الخالص (al-maa’u al-khaalish-u). Kata kerja ini lalu ditambahkan di awalnya “أ” (hamzah), sehingga menjadi “akhlasha” (أخلص), yang berarti “memurnikan, membersihkan, dan menjernihkan sesuatu.”
Kalau ada orang yang berakata kepada Anda “Ikhlaskan hatimu dalam beramal dan bekerja,” maka maksudnya adalah “Murnikan, bersihkan, dan jernihkan hati dalam beramal dan bekerja.” Orang yang ikhlas disebut “mukhlis,” yaitu orang yang mampu memurnikan, menjernihkan, dan membersihkan hatinya dari sesuatu yang dapat menghilangkan kemurniannya.
Keikhlasanmu berada di dalam hatimu. Tidak ada yang tahu, apakah Anda ikhlas atau tidak dalam melakukan sesuatu. Yang tahu tentang keikhlasan hatimu adalah Anda sendiri dan Allah (سبحانه وتعالى). Orang lain tidak dapat mengetahui keikhlasan hati seseorang karena keikhlasan itu berada di dalam hati. Ikhlas itu bercokol di dalam hati. Kalau Anda mengatakan bahwa dia sangat tulus melakukan pekerjaan itu, itu hanya dugaan belaka.
Hati yang murni itu bukan berarti hati yang kosong dari sesuatu. Hati yang kosong dari sesuatu bukanlah hati yang murni, tetapi hati yang kosong, hati yang tidak berisi sesuatu, yang di dalam bahasa Arab disebut القلب الخالي (al-qalb-u al-khaaliy). Hati yang murni atau ikhlas itu adalah hati yang hanya berisi satu sesuatu, tidak ada campurannya dengan sesuatu yang lain.
Sebagai contoh. Ambillah sebuah gelas dari kaca yang bening, lalu letakkan di atas meja. Gelas itu jangan diisi dengan apapun. Anda berkata “Gelas itu bening, kosong dari sesuatu, tidak berisi apa-apa.” Demikianlah hati yang kosong, dan bening itu. Lalu kalau gelas yang ada di atas meja itu Anda isi dengan air putih, bersih, murni, dan jernih, tidak bercampur dengan apa pun, maka Anda akan berkata bahwa “Gelas itu ikhlas.” Artinya, gelas itu tidak berisi sesuatu yang lain kecuali air putih itu.” Demikianlah hati yang ikhlas itu, adalah hati yang hanya berisi satu sesuatu, tidak dicampur sedikit pun dengan benda yang lain. Kalau Anda memasukkan air teh, air gula puith, atau air gula merah, maka gelas itu tidak ikhlas lagi, karena isinya lebih dari satu benda. Demikianlah hati yang tidak ikhlas itu, adalah hati yang tadinya berisi satu benda, lalu bercampur dengan sesuatu benda yang lain. Atau hati yang isinya sudah bercampur dengan sesuatu yang lain.
[Bagian-2] Apa Hakikat Keikhlasan?
Doa Puasa Hari ke-16 Ramadhan
اَللَّهُمَّ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِمُوَافَقَةِ الْأَبْرَارِ وَ جَنِّبْنِيْ فِيْهِ مُرَافَقَةَ الْأَشْرَارِ وَ آوِنِيْ فِيْهِبِرَحْمَتِكَ إِلَى (فِيْ) دَارِ الْقَرَارِ بِإِلَهِيَّتِكَ يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ
"Allahumma wafiqnii fiihi limuwaafaqati abraari wa jannibnii fiihi muraafaqatal asyraari wa ad khilnii fiihi birahmatika iilaa(fii)daaril qarrar bil hiyyatika yaa ilaahal aa’lamiin"
Artinya:
"Yaa Allah, berikanlah taufik kepadaku dibulan ini untuk berkumpul bersama orang2 baik, jauhkanlah aku di bulan ini dari bersahabat dgn orang2 jahat, dan dengan rahmat-Mu tempatkanlah aku dibulan ini didlm rumah keabadian dengan ketuhanan-Mu wahai Tuhan sekalian alam"
Aamiin Allahumma aamiin...🙂
نَوَيتُ صَومَ غَدِِ عَن أَدَاءِ فَرضِ شَهرِ رَمَضَانَ هَذِهِ سَنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
"Nawaitu Shauma Ghadin 'An Adai Fardhi Syahri Ramadhana Hadzihi Sanati Lillahi Ta'ala"
("Niat Saya berpuasa esok hari utk menunaikan fardhu dibulan Ramadhan tahun ini, krn Allah Ta"ala")
Membuat Allah (سبحانه وتعالى) Senang
Nabi Musa : Wahai Allah (سبحانه وتعالى) aku sudah melaksanakan ibadah.
Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang ?
Allah (سبحانه وتعالى) : Sholat mu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.
Dzikir ? Dzikirmu itu membuat hatimu menjadi tenang.
Puasa ? Puasamu itu melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu.
Nabi Musa (عليه السلام) : Lalu apa ibadahku yang membuat hatiMu senang ya Allah ?
Allah (سبحانه وتعالى) :
SEDEKAH, INFAQ dan ZAKAT serta AHLAQUL KARIMAHmu.
Itulah yang membuat Aku senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, Aku hadir disampingnya. Dan Aku akan mengganti dengan ganjaran 100 kali ( Al-Baqarah 261-262).
Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah (سبحانه وتعالى).
Tapi, bila kau berbuat dan berkorban untuk orang lain serta melunakkan hatimu kepada orang lain maka itu tandanya kau mencintai Allah (سبحانه وتعالى) dan tentu Allah (سبحانه وتعالى) senang karenanya.
Buatlah Allah (سبحانه وتعالى) senang maka Allah (سبحانه وتعالى) akan limpahkan rahmat-Nya dengan membuat hidupmu lapang dan bahagia
Barokallahu fiikum.
Semoga bermanfa'at
Amien Yarobb
Ramadhan Kareem
Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang ?
Allah (سبحانه وتعالى) : Sholat mu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.
Dzikir ? Dzikirmu itu membuat hatimu menjadi tenang.
Puasa ? Puasamu itu melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu.
Nabi Musa (عليه السلام) : Lalu apa ibadahku yang membuat hatiMu senang ya Allah ?
Allah (سبحانه وتعالى) :
SEDEKAH, INFAQ dan ZAKAT serta AHLAQUL KARIMAHmu.
Itulah yang membuat Aku senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, Aku hadir disampingnya. Dan Aku akan mengganti dengan ganjaran 100 kali ( Al-Baqarah 261-262).
Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah (سبحانه وتعالى).
Tapi, bila kau berbuat dan berkorban untuk orang lain serta melunakkan hatimu kepada orang lain maka itu tandanya kau mencintai Allah (سبحانه وتعالى) dan tentu Allah (سبحانه وتعالى) senang karenanya.
Buatlah Allah (سبحانه وتعالى) senang maka Allah (سبحانه وتعالى) akan limpahkan rahmat-Nya dengan membuat hidupmu lapang dan bahagia
Barokallahu fiikum.
Semoga bermanfa'at
Amien Yarobb
Ramadhan Kareem
Perjalanan Umur
🌿🌷🌺🙏🌺🌷🌿
Goresan jejak kehidupan...
Ketika umur kita dibawah 10 tahun, kita merasa bahwa bermain merupakan suatu yang sangat penting.
Sebab itu,
Kita suka bermain. Pagi, sore, siang, malam, bermain terus.
Ketika umur kita belasan tahun, kita merasakan kebebasan itu lebih penting.
Sebab itu,
kita ingin menyuarakan pendapat sendiri.
Ingin suara didengari.
Kita banyak memberontak dan sedikit keras kepala.
Kita mulai bandel dan tidak suka dengar nasihat.
Beranjak ke umur 20-an, kita merasakan pendidikan dan kerja begitu penting.
Sebab itu,
kita belajar sungguh-sungguh untuk memperoleh kerja yang sesuai.
Kadang-kadang kita menyesal, kenapa dulu tidak belajar sungguh-sungguh, biar dapat pekerjaan yang baik seperti kawan-kawan yang lain.
Alangkah ruginya kita telah berleha-leha sebelum ini.
Meningkat ke umur 30-an, kita semakin sadar bahwa keuangan itu sangat penting.
Sebab itu,
masa inilah kita membina hidup.
Membina keluarga.
Ingin membeli kendaraan, rumah, tanah, aset, melancong dan sebagainya.
Namun akhirnya, kita pun memasuki fase 40-an.
Perkara yang paling penting dalam hidup ialah kesehatan.
Kekayaan dan lain-lain tidak berarti dengan kesehatan yang tidak memuaskan. Pada masa ini darah tinggi, diabetes, asam urat, kolesterol, jantung koroner dan lain-lain sedang melamar kita.
Masa inilah kita bisa menyesal karena sudah terlalu sering makan yang enak2 dan sibuk kerja, sehingga lupa untuk bersenam dan menjaga kesehatan.
Memasuki era 50-an, tatkala kita sudah memiliki semua impian, akhirnya kita sadar bahwa perkara yang lebih penting dalam hidup ialah kasih sayang.
Kita sedikit kesunyian tatkala anak-anak sudah berumah tangga dan tinggal di tempat lain.
Anak-anak yang sibuk dengan kerjanya masing-masing menjadikan kita rindu saat-saat indah bersama mereka dahulu.
Rumah besar, mobil besar seakan-akan tidak lagi berarti.
Kehidupan terus berjalan.
Tatkala memasuki usia 60-an, kitapun semakin sadar bahwa hanya amal ibadahlah bekal yang akan dibawa ke alam sana.
Segala kemewahan dan kebendaan tidak lagi bermakna.
Kubur bakal menjemput kapan saja.
Mujurlah kita sempat sadar dan Allah masih membuka pintu taubat yang kita mohonkan.
Masih tersisa waktu untuk menambah bekal.
Rosulullah SAW bersabda:
"Cari kesempatan yang lima, sebelum datang lima lainnya".
1. Masa mudamu sebelum datang masa tua,
2. Masa sehatmu sebelum datang masa sakit,
3. Masa kayamu sebelum datang masa miskin,
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibuk,
5. Masa hidupmu sebelum datang kematian.”
(HR. Al Hakim)
Mari siapkan bekal, hidup ini hanya sementara.
Goresan jejak kehidupan...
Ketika umur kita dibawah 10 tahun, kita merasa bahwa bermain merupakan suatu yang sangat penting.
Sebab itu,
Kita suka bermain. Pagi, sore, siang, malam, bermain terus.
Ketika umur kita belasan tahun, kita merasakan kebebasan itu lebih penting.
Sebab itu,
kita ingin menyuarakan pendapat sendiri.
Ingin suara didengari.
Kita banyak memberontak dan sedikit keras kepala.
Kita mulai bandel dan tidak suka dengar nasihat.
Beranjak ke umur 20-an, kita merasakan pendidikan dan kerja begitu penting.
Sebab itu,
kita belajar sungguh-sungguh untuk memperoleh kerja yang sesuai.
Kadang-kadang kita menyesal, kenapa dulu tidak belajar sungguh-sungguh, biar dapat pekerjaan yang baik seperti kawan-kawan yang lain.
Alangkah ruginya kita telah berleha-leha sebelum ini.
Meningkat ke umur 30-an, kita semakin sadar bahwa keuangan itu sangat penting.
Sebab itu,
masa inilah kita membina hidup.
Membina keluarga.
Ingin membeli kendaraan, rumah, tanah, aset, melancong dan sebagainya.
Namun akhirnya, kita pun memasuki fase 40-an.
Perkara yang paling penting dalam hidup ialah kesehatan.
Kekayaan dan lain-lain tidak berarti dengan kesehatan yang tidak memuaskan. Pada masa ini darah tinggi, diabetes, asam urat, kolesterol, jantung koroner dan lain-lain sedang melamar kita.
Masa inilah kita bisa menyesal karena sudah terlalu sering makan yang enak2 dan sibuk kerja, sehingga lupa untuk bersenam dan menjaga kesehatan.
Memasuki era 50-an, tatkala kita sudah memiliki semua impian, akhirnya kita sadar bahwa perkara yang lebih penting dalam hidup ialah kasih sayang.
Kita sedikit kesunyian tatkala anak-anak sudah berumah tangga dan tinggal di tempat lain.
Anak-anak yang sibuk dengan kerjanya masing-masing menjadikan kita rindu saat-saat indah bersama mereka dahulu.
Rumah besar, mobil besar seakan-akan tidak lagi berarti.
Kehidupan terus berjalan.
Tatkala memasuki usia 60-an, kitapun semakin sadar bahwa hanya amal ibadahlah bekal yang akan dibawa ke alam sana.
Segala kemewahan dan kebendaan tidak lagi bermakna.
Kubur bakal menjemput kapan saja.
Mujurlah kita sempat sadar dan Allah masih membuka pintu taubat yang kita mohonkan.
Masih tersisa waktu untuk menambah bekal.
Rosulullah SAW bersabda:
"Cari kesempatan yang lima, sebelum datang lima lainnya".
1. Masa mudamu sebelum datang masa tua,
2. Masa sehatmu sebelum datang masa sakit,
3. Masa kayamu sebelum datang masa miskin,
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibuk,
5. Masa hidupmu sebelum datang kematian.”
(HR. Al Hakim)
Mari siapkan bekal, hidup ini hanya sementara.
Doa Puasa Hari ke-14 Ramadhan
Assalamu'alaikum wrwb...
اَللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ فِيْهِ بِالْعَثَرَاتِ وَ أَقِلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْخَطَايَا وَ الْهَفَوَاتِ وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ فِيْهِ غَرَضًا لِلْبَلايَا وَ الآفَاتِ بِعِزَّتِكَ يَا عِزَّ الْمُسْلِمِيْنَ
Artinya :
"Ya Allah! Mohon Janganlah ENGKAU tuntut dari kami di bulan ini semua kesalahan yang aku lakukan. Hapuskan seluruh kesalahan & kebodohan ku. Hindarkan aku dari bencana & malapetaka. Demi kemuliaan-MU, Wahai sandaran Kemulian kaum Muslimin..." Aamiin Ya Robbal'alamiin...🙏🏽
اَللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ فِيْهِ بِالْعَثَرَاتِ وَ أَقِلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْخَطَايَا وَ الْهَفَوَاتِ وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ فِيْهِ غَرَضًا لِلْبَلايَا وَ الآفَاتِ بِعِزَّتِكَ يَا عِزَّ الْمُسْلِمِيْنَ
Artinya :
"Ya Allah! Mohon Janganlah ENGKAU tuntut dari kami di bulan ini semua kesalahan yang aku lakukan. Hapuskan seluruh kesalahan & kebodohan ku. Hindarkan aku dari bencana & malapetaka. Demi kemuliaan-MU, Wahai sandaran Kemulian kaum Muslimin..." Aamiin Ya Robbal'alamiin...🙏🏽
Mengapa Bulan Ramadhan Dinamai Bulan Kesabaran? [bagian-2]
Untuk menahan diri dari keinginan hawa nafsu untuk makan, minum, merokok, dan berhubungan badan dengan suami/isteri pada waktu yang dilarang itu, perlu ada kekuatan tersendiri yang luar biasa yang dapat menahan nafsu agar tidak melakukan hal demikian itu. Kekuatan itu adalah kesabaran. Hanya kekuatan kesabaran yang ada di dalam hati manusia itulah yang dapat menahan nafsu agar tidak melakukan perbuatan yang melanggar itu, dan kekuatan kesabaran pulalah yang dapat mengendalikan nafsu itu.
Jika kepada Anda dihidangkan makanan yang enak di siang hari bulan Ramadhan, kalau Anda tidak memiliki kekuatan kesabaran, pastilah Anda akan memakannya hingga habis. Jika kepada Anda dihidangkan minuman segar yang sangat enak pada waktu yang sama, apalagi kalau minuman itu merupakan kesenangan Anda, jika Anda tidak memiliki kesabaran di dalam diri Anda, pasti Anda meminumnya. Bahkan, mungkin Anda meminta tambahannya lagi. Semua keinginan untuk mengkonsumsi hidangan tidak akan terjadi kalau Anda tidak memiliki kesabaran yang kuat di dalam diri Anda. Apa pun yang dihidangkan kepada Anda, seenak apa pun makanan itu di siang hari bulan Ramadhan, tidak akan pernah Anda mau melakukannya, jika kekuatan sabar ada di dalam hati Anda. Kesabaran itu yang menghalangi nafsu Anda melakukan hal yang demikian.
Di dalam bulan Ramadhan, Anda tidak hanya berkwajiban menahan diri dari makanan, minuman, dan berhubungan dengan suami/isteri serta hal-hal lain yang dilarang dilakukan pada siang hari bulan Ramadhan, tetapi juga Anda harus menunaikan semua kewajiban-kewajiban yang lain, seperti shalat fardu lima kali sehari semalam, melaksanakan shalat jumat bagi kaum laki-laki, serta melaksanakan tugas-tugas keduniaan Anda di kantor, di tempat Anda bekerja, sebagai sumber kehidupan Anda. Bahkan, tidak hanya itu yang dilakukan, Anda juga berusaha melakukan ibadah-ibadah sunnat yang disunnatkan kepada Anda, walau pun Anda merasa sangat lelah dan letih. Shalat Tarawih dan witir Anda lakukan, serta ibadah-ibadah sunnah yang lainnya tidak luput dari Anda. Semua ibadah itu tidak akan pernah Anda lakukan, jika di dalam diri Anda tidak kekuatan kesabaran yang mendorong Anda untuk melakukannya.
Imam Al-Ghazali rahimahullah pernah menyatakan bahwa “Kesabaran yang ada di dalam diri kita tidak hanya membuat kita sanggup menahan segala hal yang tidak menyenangkan, derita, kesulitan, dan gangguan yang kita alami di dalam hidup, tetapi juga membuat kita sanggup melakukan segala yang positif yang diperintahkan oleh agama kepada kita.”
Yang jelas bahwa bulan Ramadhan adalah bulan latihan di mana setiap muslim harus berlatih diri untuk melahirkan kekuatan kesabaran di dalam dirinya. Sabar dalam menahan diri dari semua hal yang dilarang, baik secara temporal seperti menahan diri dari hal-hal yang dilarang pada siang hari maupun secara permanen, seperti perbuatan zina dan dilatih bersabar untuk melakukan hal yang dipandang berat, tetapi bernilai tinggi di mata Allah (سبحانه وتعالى) dan Rasul-Nya.
Tidak mengherankan kalau orang-orang yang sabar itu adalah orang-orang yang disukai dan dicintai Allah (سبحانه وتعالى). Semoga dengan berpuasa ini kita menjadi orang-orang yang orang-orang yang bertakwa yang memiliki kekuatan kesabaran yang tinggi sehingga kita kita menjadimkn hamba-hamba yang dicintai oleh Allah (سبحانه وتعالى). Aamiin. Walaahu a’lam bi al-shawaab.
Jika kepada Anda dihidangkan makanan yang enak di siang hari bulan Ramadhan, kalau Anda tidak memiliki kekuatan kesabaran, pastilah Anda akan memakannya hingga habis. Jika kepada Anda dihidangkan minuman segar yang sangat enak pada waktu yang sama, apalagi kalau minuman itu merupakan kesenangan Anda, jika Anda tidak memiliki kesabaran di dalam diri Anda, pasti Anda meminumnya. Bahkan, mungkin Anda meminta tambahannya lagi. Semua keinginan untuk mengkonsumsi hidangan tidak akan terjadi kalau Anda tidak memiliki kesabaran yang kuat di dalam diri Anda. Apa pun yang dihidangkan kepada Anda, seenak apa pun makanan itu di siang hari bulan Ramadhan, tidak akan pernah Anda mau melakukannya, jika kekuatan sabar ada di dalam hati Anda. Kesabaran itu yang menghalangi nafsu Anda melakukan hal yang demikian.
Di dalam bulan Ramadhan, Anda tidak hanya berkwajiban menahan diri dari makanan, minuman, dan berhubungan dengan suami/isteri serta hal-hal lain yang dilarang dilakukan pada siang hari bulan Ramadhan, tetapi juga Anda harus menunaikan semua kewajiban-kewajiban yang lain, seperti shalat fardu lima kali sehari semalam, melaksanakan shalat jumat bagi kaum laki-laki, serta melaksanakan tugas-tugas keduniaan Anda di kantor, di tempat Anda bekerja, sebagai sumber kehidupan Anda. Bahkan, tidak hanya itu yang dilakukan, Anda juga berusaha melakukan ibadah-ibadah sunnat yang disunnatkan kepada Anda, walau pun Anda merasa sangat lelah dan letih. Shalat Tarawih dan witir Anda lakukan, serta ibadah-ibadah sunnah yang lainnya tidak luput dari Anda. Semua ibadah itu tidak akan pernah Anda lakukan, jika di dalam diri Anda tidak kekuatan kesabaran yang mendorong Anda untuk melakukannya.
Imam Al-Ghazali rahimahullah pernah menyatakan bahwa “Kesabaran yang ada di dalam diri kita tidak hanya membuat kita sanggup menahan segala hal yang tidak menyenangkan, derita, kesulitan, dan gangguan yang kita alami di dalam hidup, tetapi juga membuat kita sanggup melakukan segala yang positif yang diperintahkan oleh agama kepada kita.”
Yang jelas bahwa bulan Ramadhan adalah bulan latihan di mana setiap muslim harus berlatih diri untuk melahirkan kekuatan kesabaran di dalam dirinya. Sabar dalam menahan diri dari semua hal yang dilarang, baik secara temporal seperti menahan diri dari hal-hal yang dilarang pada siang hari maupun secara permanen, seperti perbuatan zina dan dilatih bersabar untuk melakukan hal yang dipandang berat, tetapi bernilai tinggi di mata Allah (سبحانه وتعالى) dan Rasul-Nya.
Tidak mengherankan kalau orang-orang yang sabar itu adalah orang-orang yang disukai dan dicintai Allah (سبحانه وتعالى). Semoga dengan berpuasa ini kita menjadi orang-orang yang orang-orang yang bertakwa yang memiliki kekuatan kesabaran yang tinggi sehingga kita kita menjadimkn hamba-hamba yang dicintai oleh Allah (سبحانه وتعالى). Aamiin. Walaahu a’lam bi al-shawaab.
Langganan:
Postingan (Atom)