Senin, 20 Februari 2017

Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, Lahirnya Pancasila


  1. Pidato Bagian-1/3
  2. Pidato Bagian-2/3
  3. Pidato Bagian-3/3
Kutipan sebagian Pidato Bung Karno pada bagian-3:

"... Kemudian, apakah dasar yang ke-3? Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya.  Tetapi kita mendirikan negara “semua buat semua”, “satu buat semua”, “semua buat satu”. Saya yakin, bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan.

Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, saya pun, adalah orang Islam, –maaf beribu-ribu maaf keislaman saya jauh belum sempurna,– tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam. Dari hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, jaga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat.

Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan. Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Di sinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat ini agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam kedalam badan perwakilan ini. Ibaratnya badan perwakilan rakyat 100 orang anggotanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar spaya 60, 70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat ini, hukum Islam pula. Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyatanya terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidup di dalam jiwa rakyat, sehingga 60%, 70%, 80%, 90% utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam. Maka saya berkata, baru jikalau demikian, hiduplah, Islam Indonesia, dan bukan Islam yang hanya di atas bibir saja. Kita berkata, 90% daripada kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa persen yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf seribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat. Oleh karena itu, saya minta kepada saudara-saudara sekalian baik yang bukan Islam, maupun terutama Islam, setujuilah prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan.

Dalam perwakilan nanti ada perjuangan sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul-betul hidup, jikalau di dalam badan perwakilan tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Candradimuka, kalau tidak ada perjuangan faham di dalamnya. Baik di dalam staat Islam, maupun di kalangan staat Kristen, perjuangan selamanya ada. Terimalah prinsip nomor 3, prinsip mufakat, prinsip perwakilan rakyat! Di dalam perwakilan rakyat saudara-saudara Islam dan saudara-saudara Kristen bekerjalah sehebat-hebatnya, kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter di dalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian, agar supaya sebagian besar daripada utusan-utusan yang masuk badan perwakilan Indonesia ialah orang Kristen. Itu adil fair play! Tidak ada satu negara boleh dikatakan hidup, kalau tidak ada perjuangan di dalamnya. Jangan kira di Turki tidak ada perjuangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam pergaulan kita sehari-hari, kita selalu bergosok, seakan-akan menumbuk membersihkan gabah supaya keluar daripadanya beras, dan beras itu akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya. Terimalah saudara-saudara, prinsip nomor 3, yaitu prinsip permusyawaratan! ..."

Hal ini dikutip pula secara lugas oleh Pakar Hukum Prof Mahfud MD di dalam HUT-9 TV One dalam rangka Merekatkan Bangsa, berikut kutipan yang disampaikan beliau,

Mahfud MD angkat Bicara Merekatkan Bangsa tentang TIDAK TEGAKNYA KEADILAN



Sumber: sesuai link masing-masing







Sepuluh Pemberi Syafa'at di Hari Kiamat


1. ALLAH AZZA WA JALLA
2. RASULULLAH MUHAMMAD
3. PARA NABI 'ALAIHIS SALAM DAN MALAIKAT
4. NABI IBRAHIM 'ALAIHIS SALAM
5. ASH SHIDDIQIN
6. ASY SYUHADA'
7. MUKMININ
8. ANAK KECIL YANG MENINGGAL SEBELUM BALIGH
9. SYAFAAT SHIYAM (PUASA)
10. MEMBACA AL QU'RAN


Sumber: Sepuluh Pemberi Syafa'at di Hari Kiamat



Rabu, 08 Februari 2017

BUMI akan right issue Rp 35 T, awas efek dilusi

Selasa, 07 Februari 2017 / 20:42 WIB

JAKARTA. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyetujui rencana menerbitkan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) maksimal 37,88 miliar saham baru. Nilai transaksi itu mencapai Rp 35,1 triliun.

Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar 926,16 per saham. "Rights issue ini akan dilakukan di bulan Mei atau Juni," ujar Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI usai RUPSLB, Selasa (7/2).

Ia mengatakan 99% pemegang saham BUMI menyetujui aksi korporasi tersebut. Bersamaan dengan itu, BUMI juga menerbitkan Obligasi Wajib Konversi (OWK). HMETD yang dilakukan melalui penawaran umum terbatas (PUT) itu, akan meliputi hak untuk membeli saham baru PUT dan OWK.

Kreditur BUMI dapat mengambil bagian saham baru dengan cara mengkompensasi hak tagih yang dimiliki menjadi saham baru ataupun membeli OWK itu. Perlu dicatat, aksi korporasi ini memberikan efek dilusi sebesar 50,8% terhadap pemegang saham lama yang tak mengambil haknya dalam HMETD tersebut.

Sumber: BUMI akan right issue Rp 35 T, awas efek dilusi



Tata Cara Sujud Sahwi

Sebagaimana telah dijelaskan dalam beberapa hadits bahwa sujud sahwi dilakukan dengan dua kali sujud di akhir shalat –sebelum atau sesudah salam-. Ketika ingin sujud disyariatkan untuk mengucapkan takbir “Allahu akbar”, begitu pula ketika ingin bangkit dari sujud disyariatkan untuk bertakbir.

Contoh cara melakukan sujud sahwi sebelum salam dijelaskan dalam hadits ‘Abdullah bin Buhainah,

فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.” (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)

Contoh cara melakukan sujud sahwi sesudah salam dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah,

فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

“Lalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudian beliau salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573)

Sujud sahwi sesudah salam ini ditutup lagi dengan salam sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Imron bin Hushain,

فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.

“Kemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah raka’at yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” (HR. Muslim no. 574)

Do’a Ketika Sujud Sahwi

Sebagian ulama menganjurkan do’a ini ketika sujud sahwi,

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو

“Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw” (Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa).[4]

Namun dzikir sujud sahwi di atas cuma anjuran saja dari sebagian ulama dan tanpa didukung oleh dalil. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

قَوْلُهُ : سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا : سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو – أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ – قُلْت : لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا .

“Perkataan beliau, “Aku telah mendengar sebagian ulama yang menceritakan tentang dianjurkannya bacaan: “Subhaana man laa yanaamu wa laa yas-huw” ketika sujud sahwi (pada kedua sujudnya), maka aku katakan, “Aku tidak mendapatkan asalnya sama sekali.” (At Talkhis Al Habiir, 2/6)

Sehingga yang tepat mengenai bacaan ketika sujud sahwi adalah seperti bacaan sujud biasa ketika shalat. Bacaannya yang bisa dipraktekkan seperti,

سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى

“Subhaana robbiyal a’laa” [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi][5]

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى

“Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” [Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku][6]


Sumber : Panduan Sujud Sahwi (2), Tata Cara Sujud Sahwi



Kamis, 02 Februari 2017

TIDAK USAH MEMPERHATIKAN ISTRI TETANGGA..sexy atau tidak.

Tulisan arek Jombang yg menyejukkan...

Salam NKRI JIWAKU.

TIDAK USAH MEMPERHATIKAN ISTRI TETANGGA..sexy atau tidak.
Oleh : Emha Ainun Nadjib.

Dalam suatu forum, saya bertanya :
'Apakah anda punya tetangga ?'
Dijawab serentak :
'Tentu punya.'
'Punya istri nggak tetangga Anda ?'
'Yaa, punya doong.'
'Pernah lihat kaki istri tetangga anda itu ?'
'Secara khusus tak pernah melihat' kt hadirin diforum.
'Jari-jari kakinya lima atau tujuh ?'
'Tidak prnh memperhatikan.
'Bodynya sexy gak ?'
Hadirin tertawa lepas.

Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jwb-an dari mereka : 'Sexy atau tidak bukan urusan kita, kan ?'
Tdk usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan/perdebatkan, biarkan sj.
Keyakinan keagamaan orang lain itu yaa ibarat istri orang lain.
Ndak usah diomong2-kan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apa pun.
Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan di dalam hati.
Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah.
Dan itulah sebabnya ia m'jadi orang non-Islam.
Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar, ngapain dia jadi non-Islam ?
Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah.
Justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam.

Tapi sebagaimana istri tetangga..itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbanding-kan atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.
Biarlah setiap orang memilih istri sendiri2 dan jagalah kemerdekaan masing2 orang untuk menghormati & mencintai istrinya masing2, tak usah rewel bahwa istri kita lbh mancung hidungnya karena bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tdk pk dokter, umpamanya.

Dengan kata yang lebih jelas, theologi agama2 tak usah dipertengkarkan, biarkan masing2 pada keyakinannya.

Sementara itu orang Muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silahkan pinjam motor tetangganya yang beragama Katholik untuk mengantar istrinya ke RS.
Atau pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju gamis / baju koko tetangganya yang NU mau pun yang Muhamadiyah.
Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.

Tetangga2 berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok atau apa pun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor theologi masing2....
- Bisa memperbaiki pagar bersama-sama,
- Bisa gugur gunung membersihi kampung,
- Bisa pergi mancing bareng,
- Bisa main gaple dan remi bersama,
- Bisa ngumpul nge WA, BB-an, Face bookan..& media sosial lainnya.. ber-sama2.
Tidak ada masalah....
- Lurahnya Muslim,
- Cariknya Katholik,
- Kamituwonya Hindu,
- Kebayannya Gatholoco atau apa pun.

Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapi pun kita bekerja sama nyąngkul dan olah sawah.
Itulah lingkaran tulus hati dengan hati.
Semoga... kita makin sadar akan pentingnya.. Toleransi, Solidaritas & Kerukunan.
Bahwa semuanya itu indah nan Fitri... !!!
Tolong diforward ke sahabat dan saudara2 kita, agar timbul ketenangan dan kedamaian.
Damai di hati...
Damai di bumi...

Aamiin YRA.🙏🙏🙏



Jumat, 27 Januari 2017

The Darvas Box Theory


How does Darvas describe his Box Theory? Simply stated, Darvas writes that stock price movements are not erratic and random, but rather, “a series of price ranges or boxes.”

Notice here that Darvas explains his theory as a series of price ranges OR boxes, thus implying that the Darvas Boxes shouldn't be applied too rigidly.

A lot of work goes into properly defining these Darvas Boxes, but for now, simply understand that Darvas was looking for stocks that developed recognizable price ranges – areas of support and resistance.  And, he wanted to see these price ranges trending higher and higher – in other words, he wanted to see higher highs and higher lows.

That is the Darvas System in its simplest terms.

Wall Street likes to call this style “trend trading” because you buy high-growth stocks as they move up in price (trending higher) and only sell them when the stock falls below previous support levels (breaking a trend).

Big institutions – mutual funds, hedge funds, pension funds, trust funds, etc. – have the ability to drive stock prices quickly and as a Darvas System trend trader, you’re basically following the trend created by these institutional moves.


The Individual Trader’s Advantage 

This is why an individual trader has a huge advantage over a large institutional fund manager.  Because of their size, institutions are unable to get in and out of positions quickly, but an individual trader has this capability.

An individual can ride the trend on the way up and easily get out before the institutions have time to unload their huge positions.  This is also why it can be difficult to achieve huge returns with the Darvas System once you’re dealing with an account of more than $50 million.  (Of course, having an account that large would be a good problem to have for most individual traders.)

Some of you may be noticing the many similarities between the Darvas System and William J. O’Neil’s popular CAN SLIM system.  O’Neil was heavily influenced by Darvas’ teachings, so this is no accident.

However, while O’Neil is a brilliant trader who has helped thousands make better investment decisions, I feel that there are some aspects of the CAN SLIM system that, frankly, aren’t all that important in picking winning stocks.

Therefore, we offer a new, easy-to-remember acronym for the Darvas System:

D – Direction of the Market
A – Accelerated Earnings and Sales
R – Relative Price Strength (and Return on Equity)
V – Volume Increasing
A – Aggressive Growth Group
S – Sound Base Pattern

To further explain:

D – Direction of the Market 

Is the market, as a whole, in an uptrend?  It is highly unlikely that a stock will have huge gains when the overall market is in a downtrend, so make sure the direction of the market is moving upward.

A – Accelerated Earnings and Sales

Is the company seeing increases in earnings and sales this quarter compared to the same quarter last year?

Normally, you want to see stocks with at least 40% increases in earnings AND sales in the most recent quarter compared to the same quarter last year.  And remember, the higher the increase in earnings and sales, the better.  If you have a choice between a stock with a 50% increase and one with a 90% increase, definitely go with the 90% increase stock.

R – Relative Price Strength (and Return on Equity)

Is the stock outperforming most other stocks in terms of its price increase?

Darvas wanted to see stocks that had at least doubled over the past year before he’d consider buying.  If a stock has already increased a great deal over the past year, most investors are fearful of a steep decline, but many studies have shown that Darvas was right in his assessment; if a stock had already made a powerful move, it proved that it had the ability to move in such a fashion and therefore, was likely to do it again.

Another important characteristic of ideal Darvas stocks is a high Return on Equity.  Fund managers love to see a high ROE.  Some put a higher value on ROE than they do earnings and sales.

William O’Neil conducted a 50-year study on top performing stocks.  This study’s findings were published in his classic book How to Make Money in Stocks.  O’Neil found that almost all of what he labeled “the greatest growth stocks of the past years” began their runs with a Return on Equity of 17% or higher.  And just like when it comes to earnings and sales, the higher the ROE is, the better outlook for the stock.

Therefore, with the exception of rare cases when earnings or other conditions are extremely attractive, we should primarily buy stocks with a ROE of 17% of higher.

V – Volume Increasing

Is volume increasing on up days, particularly on the day when the stock breaks into new highs?

Volume can tell you so much about a stock.  Ideally, you want to see much higher-than-normal volume when a stock breaks into new highs and lower volume when the stock declines.

A – Aggressive Growth Group

Is the stock a member of an industry group that has been increasing in price more rapidly than most other groups?

At any given time in the market, there are certain groups and sectors that are very hot.  It’s always been this way and always will be this way.  Make sure your stocks are members of these hot groups.

S – Sound Base Pattern

Is the stock breaking out of a sound base pattern?

You want to buy stocks that are breaking out of old price ranges and into new, higher price ranges.  You also want to sell stocks that are falling down into lower price ranges.  These price ranges may be strictly applied Darvas Boxes...

If a stock meets all of the above criteria, it is potentially a huge winner.

Remember, as Darvas said, the only reason to buy a stock is if this price of that stock is going up.  He was only interested in stocks that could double, triple, or quadruple over the next six to 12 months.

If you concentrate your stock selections to these types of stocks, you too may soon join the growing list of Darvas Millionaires.

Unfortunately, most traders lack the discipline to stick with these strict requirements.


Sumber: What Is the Nicolas Darvas Trading System?



Sabtu, 14 Januari 2017

Jangka Waktu Trading

Jangka waktu trading memang sangat penting. Sangat menentukan hasil yang diperoleh dari trading. Juga menentukan bagaimana proses untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Dalam jangka panjang, rasionalitas para pelaku pasar cenderung lebih tinggi dibanding dalam jangka pendek. Pada jangka pendek prilaku pelaku pasar lebih cenderung dikuasai faktor histeria. Dalam jangka panjang, lebih didominasi perhitugang yang matang (rasionalitas).

Nah, dari sini sudah kelihatan mengapa trading jangka panjang lebih dianjurkan bukan? Ya, betul. Ini karena pada jangka panjang, faktor rasionalitas lebih mendominasi. Dan ini lebih mudah. Lebih mudah dianalisa, diprediksi, dan diantisipasi.

Di sisi lain, faktor histeria (yang mendominasi pada trading jangka pendek) sangat sulit untuk diprediksi — bahkan hampir mustahil. Makanya tidak heran dalam jangka pendek, pergerakan harga cenderung sangat liar. Sangat sulit dianalisa, diprediksi, dan diantisipasi.

Sumber: Sekali Lagi Tentang Trading Jangka Panjang